"PENJAJAHAN BARAT ATAS DUNIA ISLAM"
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada awalnya dunia
Timur dan Barat saling pengaruh mempengaruhi. Kaum muslimin dari Timurpun telah
memberikan sumbangan yang besar dengan mengembangkan dan memelihara filsafat
Yunani yang telah diharamkan oleh Gereja Barat. Ilmu-ilmu eksakta yang tak
pernah dikenal atau dikembangkan sebelumnya telah disumbangkan pula oleh kaum
muslimin. Terjadilah hubungan timbal balik antara Timur dan Barat di Laut
Tengah.
Namun hubungan yang
makin lama makin baik itu tiba-tiba diputuskan oleh Paus Urbanus II yang
membangkitkan fanatisme agama terhadap Islam. Pidato yang diucapkan pada
tanggal 26 November 1095 di Cler Mont (Perancis Selatan), orang Kristen
mendapat suntikan untuk mengunjungi “Kuburan suci dan merebutnya dari orang-orang
Islam”. Suatu serangan yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Salib, yang
mempunyai tujuan untuk merebut kota suci Palestina, “Tempat Tuhan Berpijak”.
Dari sinilah awal
mula penjajahan Barat terhadap dunia Islam, disaat dunia Islam mengalami kemerosotan
internal yang hebat akibat pertarungan-pertarungan antara kaum Syi’ah, kaum
Sunni dan kaum Khawarij, antara madzhab Safii, Hanafi dan Hambali, antara
ras-ras Persia, Arab dan Turki, memberikan peluang kepada dunia Barat untuk
menghancurkan kaum muslimin dan menguasai negeri mereka.
Pengaruh Barat adalah gerakan
dahsyat dalam transformasi modern dunia Timur. Pengaruh Barat bukan saja
mengubah dunia Islam tetapi juga seluruh Asia dan Afrika . Pengaruh Barat ini
berkembang sedemikian pesat, apalagi setelah negara Barat mencapai kemajuan
besar di bidang tehnologi peralatan perang. Barat telah memperbaiki diri
melalui renaissance dan reformasi.
B. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang di atas, maka muncul permasalahan :
1. Apakah latar belakang penjajahan Barat terhadap dunia
Islam?
2. Bagaimanakah bentuk-bentuk penjajahan Barat terhadap dunia
Islam di India dan Asia Tenggara termasuk
di Indonesia?
3. Bagaimanakah implikasi penjajahan Barat terhadap
perkembangan peradaban Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar belakang penjajahan barat terhadap dunia islam
Perang Salib adalah
peperangan yang dilakukan oleh umat Kristen Eropa barat ke tanah Timur, sejak
dari abad 11 – 13 M. Untuk melepaskan Palestina dari tangan daulah Islam dan
mendirikan daulah Kristen Latin di tanah Timur. Dinamakan Perang Salib karena
umat Kristen yang turut dalam peperangan itu memakai tanda salib sebagai simbol.
Perang Salib I dimenangkan oleh orang Kristen, karena pada waktu itu kaum muslimin tidak dalam keadaan bersatu, perpecahan terjadi di seluruh wilayah, juga karena para pemimpin Islam saling bermusuhan, dalam kondisi yang tidak seimbang inilah kaum muslimin mengalami kekalahan.
Perang Salib I dimenangkan oleh orang Kristen, karena pada waktu itu kaum muslimin tidak dalam keadaan bersatu, perpecahan terjadi di seluruh wilayah, juga karena para pemimpin Islam saling bermusuhan, dalam kondisi yang tidak seimbang inilah kaum muslimin mengalami kekalahan.
Perang Salib
menjadi awal mula penjajahan Barat terhadap dunia Islam. Sejak itu lahirlah
imperialisme dengan bentuk penindasan, penghisapan, perbudakan yang merupakan
lembaran hitam umat manusia yang hina, keji dan jahat. Bangsa Barat mempunyai
semboyan yang terkenal dengan M3 (Mercenary, Missionary, Military), yaitu
keuntungan, penyiaran agama dan perluasan daerah militer.
Perang Salib
membawa keuntungan bagi negara-negara Barat, hal itu dapat dilihat saat Paus
membagi dunia menjadi 2 bagian pada tahun 1493, yang satu dihadiahkan untuk
Spanyol dan yang lain untuk Portugis. Daerah Demarkasi inilah yang memberikan
daerah mulai dari Brazil ke timur, termasuk Indonesia menjadi milik Portugis.
Selain itu juga diberikan istimewa kepada Portugis dan Spanyol terhadap laut,
pulau dan benua yang telah ditemukan untuk tetap menjadi milik mereka dan anak
cucunya. Paus Alexander VI juga menunjuk ditemukannya emas, rempah-rempah dan
banyak barang berharga yang berjenis-jenis dan bermutu (inter caetero diciae).
Selain itu penetris
Perancis telah berkembang dengan cepat pedagang-pedagang Perancis mempergunakan
kesempatan untuk melaksanakan keinginannya mendirikan pos-pos perdagangan dan
misi-misi perwakilan di Syria dan Mesir. Kapitulasi-kapitulasi lain yang
mengikutinya kemudian diberikan kepada Inggris dan Belanda serta negara-negara
barat lainnya. Pada abad ke delapan belas perdagangan Eropa tumbuh dengan
cepatnya dan sejumlah koloni dagang sendiri di kota-kota pelabuhan di Syria dan
Mesir.
Tujuan Misionaris Kristen penjajahan Barat terhadap dunia Islam jelas sekali terlihat dengan ucapan Livingstone, bahwa tujuan dan akhir dari penaklukan geografis adalah permulaan usaha missi Kristen (the end of the geographical feet is the beginning of the missionary entreprise).
Tujuan Misionaris Kristen penjajahan Barat terhadap dunia Islam jelas sekali terlihat dengan ucapan Livingstone, bahwa tujuan dan akhir dari penaklukan geografis adalah permulaan usaha missi Kristen (the end of the geographical feet is the beginning of the missionary entreprise).
Raymundus Lullus,
seorang pastor, yaitu seorang pendeta Kristen yang sangat membenci Islam,
selalu bersemboyan dimanapun berada, bahwa Islam is false and must die (Islam
adalah palsu dan harus mati). Oleh karena itu dimana Islam haruslah direbut
melalui dominasi politik dan dipertahankan untuk kemudian diserbu missi,
memisahkan kaum muslimin dari agamanya dan kemudian diganti dengan Kristen.
Antara gereja dengan imperialisme terdapat manfaat dan saling terpisahkan, keduanya saling memperoleh manfaat dan saling membantu. Malah pada abad ke 19 dan permulaan abad ke 20 rencana salib modern ini dilakukan dengan teliti melalui kerjasama yang erat antara keduanya.
Antara gereja dengan imperialisme terdapat manfaat dan saling terpisahkan, keduanya saling memperoleh manfaat dan saling membantu. Malah pada abad ke 19 dan permulaan abad ke 20 rencana salib modern ini dilakukan dengan teliti melalui kerjasama yang erat antara keduanya.
Tujuan penjajahan
barat terhadap dunia Islam selanjutnya adalah military atau perluasan daerah
militer. Penetrasi barat ke pusat dunia Islam di Timur Tengah pertama-tama
dilakukan oleh dua bangsa Eropa yang terkenal yaitu Inggris dan Perancis.
Inggris terlebih dahulu menanamkan pengaruhnya di India, sedangkan Mesir dapat
ditaklukkan Perancis tahun 1789 M.
Semua negara Kristen bersatu
tekad hendak menghancurkan kerajaan-kerajaan Islam. Semangat sabilisme memang
tetap tersimpan dalam dada kaum Nasrani bagaikan api dalam sekam dan semangat
fanatisme tidak pernah lepas, ia tetap hidup dan bergejolak di dalam hati
hingga sekarang. Agama Nasrani selamanya melihat Islam dengan kacamata
permusuhan, kedengkian dan fanatisme keagamaan yang penuh kebencian.
Apalagi ketika kemudian terjadi Perang Dunia I (1915) Turki Usmani berada dipihak yang kalah. Sampai akhirnya tahun 1919 M, Turki diserbu tentara sekutu. Sejak itu kebesaran Turki Usmani benar-benar tenggelam, bahkan tidak lama kemudian kekhalifahan dihapuskan (1924 M). Semua daerah kekuasaannya yang luas, baik Asia maupun Afrika diambil alih oleh negara-negara Eropa yang menang perang.
Apalagi ketika kemudian terjadi Perang Dunia I (1915) Turki Usmani berada dipihak yang kalah. Sampai akhirnya tahun 1919 M, Turki diserbu tentara sekutu. Sejak itu kebesaran Turki Usmani benar-benar tenggelam, bahkan tidak lama kemudian kekhalifahan dihapuskan (1924 M). Semua daerah kekuasaannya yang luas, baik Asia maupun Afrika diambil alih oleh negara-negara Eropa yang menang perang.
Terlepas
dari hal tersebut, motivasi Barat menjajah Dunia Islam adalah motivasi ekonomi,
politik, hingga agama. Dalam Motivasi ekonomi dapat terlihat dari ekspansi
Barat ke Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru mulai berkembang, merupakan
wilayah yang subur dan memiliki potensi sumber daya alam seperti rempah-rempah
dan menjanjikan dalam penanaman modal.
Di samping
rempah-rempah mereka juga membutuhkan negeri-negeri tempat mereka dapat
memasarkan hasil industrinya. Mereka melakukan monopoli perdagangan
dengan merebut bandar-bandar pelabuhan besar yang sebelumnya menjadi daerah
perdagangan umat Islam dari Arab, Persia, India, dan Cina. Mereka menguras
kekayaan pribumi dengan cara paksa, disertai kekerasan senjata demi merebut
bandar perdagangan tersebut.
B. Penjajahan barat terhadap
dunia Islam di
anak benua India
dan Asia Tenggara
Di awal abad ke- 17 M, Inggris
dan Belanda mulai menginjakan kaki di India. Pada tahun 1611 M, Inggris
mendapat izin menanamkn modal, dan pada tahun 1617 M Belanda mendapatkan izin
yang sama. Penguasa-penguasa setempat mencoba mempertahankan dan berperang
melawan Inggris tahun 1761 M. Namun, mereka tidak berhasil mengalahkan
Inggris. Pada tahun 1803 M, Delhi, ibukota kerajaan Mughal, juga berada
di bawah bayang-bayang kekuasaan Inggris, karena bantuan yang diberikan Inggris
kepada raja ketika mengalahkan aliansi Sikh-Hindu berusaha menguasai kerajaan.
Pada tahun 1842 M, keamiran Sind di India dikuasainya. Tahun 1857 M kerajaan
mughal bahkan dikuasai penuh dan setahun kemudian rajanya yang terakhir dipaksa
meninggalkan istana. Pada tahun 1879 M, Inggris berusaha menguasai Afganistan. Sejak
itu India dikuasai penuh oleh Inggris. Akhirnya, pada tahun 1899 M
kesultanan Muslim Baluchistan jatuh di bawah kekuasaan
India-Inggris. Kerajaan
Islam Malaka yang berdiri pada awal abad ke-15 M di Semenanjung Malaya yang
strategis dan merupakan kerajaan Islam kedua di Asia Tenggara setelah Samudra
Pasai, ditaklukan Portugis pada tahun 1511 M. Pada tahun 1521 M, Spanyol datang
ke Maluku dengan tujuan dagang. Spanyol berhasil menguasai Filifina, temasuk di
dalamnya beberapa kerajaan Islam, seperti Kesultanan Maguidanao, Kesultanan
Buayan, dan Kesultanan Sulu. Akhir abad ke-16 M, giliran Belanda, Inggris,
Denmark, dan Prancis yang datang ke Asia Tenggara. Belanda datang tahun 1595 M
dan dengan segera dapat memonopoli perdagangan di kepulauan Nusantara. Setalah
Inggris datang ke Asia Tenggara, ia segera menjadi kekuatan yang cukup dominan,
menyaingi kekuatan Belanda. Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru
mulai berkembang, merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu dan
menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa. Kekuatan Eropa malah lebih awal
menancapkan kekuasaannya di negeri ini. Hal ini dimungkinkan karena
dibandingkan dengan Mughal, kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih
lemah sehingga dengan mudah dapat ditaklukkan
Seperti
kedatangan Portugis, Belanda, Inggris, dan Spanyol dari abad ke 15 sampai 19 M
di kawasan perdagangan internasional Malaka, Gujarat, dan lainnya. Kekuasaan
politik negara-negara Eropa berlanjut terus sampai pertengahan abad ke-20.
Motivasi politik yang mereka galakkan ialah melakukan politik pecah belah,
yaitu penjajah dengan sengaja menciptakan jurang pemisah antara kaum bangsawan
dan rakyat kecil. Kaum bangsawan dibujuk untuk menuruti kehendak penjajah
dengan jaminan jabatan dan keuntungan tertentu, sedang rakyat kecil diawasi
agar tidak memberontak. Hal tersebut bertujuan untuk menghancurkan persatuan
dan kesatuan rakyat agar tidak ada kekuatan yang nantinya dikhawatirkan akan
mengancam keberadaan kaum penjajah.
Setelah bangsa
Barat menguasai ekonomi dan politik negara-negara Islam, terdapat pula negara
Barat yang menjajah dunia Islam dengan melakukan penyebaran agama Kristen
melalui missionaris atau zending. Di antara bangsa Barat yang memiliki ketiga
motivasi ini adalah Spanyol dan Portugis. Hal ini tercermin pada semboyan
mereka dalam menjajah, yaitu Gold (semangat untuk mencari keuntungan), Glory
(Semangat untuk mencapai kejayaan dalam bidang kekuasaan, dan Gospel (semangat
untuk menyebarkan agama Kristen di masyarakat yang terjajah.
Imperealisme Barat telah
memberikan dampak yang begitu besar terhadap Peradaban umat Islam. Peradaban
Islam berusaha diganti dengan peradaban Barat. Penyebaran budaya yang merusak
semakin nampak, misalnya budaya minuman keras, berjudi, pergaulan bebas, dan
sebagainya melanda kau terjajah. Dengan cara inilah penjajah merusak peradaban
dan generasi Islam.
Imperealisme Barat telah
berdampak kepada hampir seluruh negara-negara Muslim. Negara-negara Islam yang
pertama kali dikuasai oleh Barat adalah negara-negara Islam di Asia Tenggara
dan di Anak Benua India. Sedangkan negara-negara Islam di Timur Tengah, yang
masih berada di bawah kekuasaan kerajaan
Usmani, baru berhasil ditaklukkan pada masa berikutnya.
Ekspansi Barat
ke Timur Tengah di mulai ketika Kerajaan Usmani mengalami kemunduran sementara
Barat mengalami kemajuan di segala bidang, seperti perdagangan, ekonomi,
industri perang dan teknologi militer. Meskipun demikian, nama besar Turki
Usmani masih disegani oleh Eropa Barat sehingga mereka tidak melakukan
penyerangan ke wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan Islam. Namun, kekalahan besar
Kerajaan Usmani dalam menghadapi serangan Eropa di Wina tahun 1683 M
menyadarkan Barat bahwa Kerajaan Usmani telah melakukan perubahan-perubahan
Mereka belajar dari kekalahan di Wina
tersebut. Di antara pembaharuan yang dilakukan ialah :
a) Pengiriman
duta-duta ke Eropa, untuk melihat dan meneliti dari dekat kemajuan Eropa.
b) Selanjutnya,
berdirilah sekolah teknik militer pada tahun 1734, dengan mendatangkan para ahli militer Eropa sebagai
pengajarnya.
c) Adapun
pembaharuan lainnya adalah penerjemahan buku-buku Eropa ke dalam bahasa
Turki, serta pembukaan percetakan, semua dilakukan untuk kepentingan kemajuan
ilmu pengetahuan.
Usaha-usaha ini
baru membuahkan hasil setelah penghalang pembaharuan utama, yaitu tentara
Yenissari (merupakan pihak yang menolak adanya pembaharuan ini) dibubarkan oleh
Sultan Mahmud II pada tahun 1826. Namun, gerakan pembaharuan ini ternyata tidak
mampu menghentikan gerakan Barat yang begitu cepat. Selama abad ke-18 M, Barat
menyerang wilayah kekuasaan Turki Usmani yang berujung pada penandatanganan Perjanjian
san Stefano (Maret, 1878 M), dan Perjanjian Berlin ( Juni-Juli, 1878
M) antara kerajaan Usmani dan Rusia, dengan demikian berakhirlah kekuasaan
Turki Usmani di Eropa.
Setelah terjadi
Perang Dunia I pada tahun 1915, Turki Usmani berada di pihak yang kalah, dan
menjadi serbuan Sekutu hingga tahun 1919 M. Akhirnya, kekuasaan Turki Usmani
benar-benar tenggelam, bahkan kekhalifaannya dihapuskan (1924 M). Semua daerah
kekuasaannya, baik di Asia maupun Afrika, diambil alih oleh pihak Eropa yang
menang perang. Penetrasi Barat ke dunia Islam di Timur Tengah pertama-tama
dilakukan oleh Inggris dan Perancis yang memang sedang bersaing.
Di wilayah
Afrika, beberapa negara Islam yang menjadi sasaran penjajahan di anataranya
adalah Mesir dijajah oleh Inggris (1882 M), Sudan dijajah oleh Inggris (1899
M), Libya dijajah oleh Italia (1911 M), Tunisia dijajah oleh Prancis (1881 M),
Aljazair dijajah oleh Perancis (1830 M), Maroko dijajah oleh Perancis (1911 M),
selain itu Afrika Tengah dan Afrika Timur pun tak luput dari sasaran
penjajahan.
Tak hanya itu,
wilayah jazirah Arab juga menjadi sasaran penjajahan. Suriah dan Lebanon juga
pernah dikuasai oleh Perancis (1918 M), Palestina dan Yordania juga pernah
dikuasai oleh Inggris.
Sementara
itu, Rusia menggerogoti wilayah Islam di Asia Tengah, seperti Kaukasia
(1834-1859), Samarkand dan Bukhara (1866-1872), dan Uzbekistan (1873-1887). Hal
tersebut merupakan imbas dari perjanjian San Stefano dan perjanjian Berlin
antara Rusia dan Turki Usmani
Dengan
kata lain di akhir abad XIX dan XX, dunia
Islam hampir seluruhnya berada dalam koloni Barat. Dunia Islam yang membentang
dari Maroko hingga Indonesia merupakan negeri-negeri kolonial yang dijadikan
“sapi perahan” untuk kemakmuran bangsa Barat
Jika
ditilik secara mendalam, kolonialisme Barat terhadap Islam setidaknya bersumber
dari model citra dan persepsi Barat yang menganggap Islam sebagai musuh dan
rival Kristen. Kolonialisme yang menyertai semangat Evangelisme (penginjilan)
pada abad XIX tersebut mewarnai dunia dan masyarakat Islam kala itu. Ide dan
semangat Evangelisme, yang menganggap bahwa keselamatan (salvation)
terletak hanya pada pengakuan dosa dan penerimaan gospel Kristen,
menciptakan konfrontasi antara Kristendom dan Muslim dalam skala besar. Hal
tersebut membangkitkan kembali sikap permusuhan Eropa terhadap Islam
Demikianlah
Islam dengan krisis identitasnya, ditambah rongrongan bangsa berjiwa imperialis
yang merusak tatanan sistem politik, psikologi, sosial-budaya hingga moralitas
bangsa terjajah. Jelas, hal ini menghantam telak peradaban Islam, sehingga
dinamika menjadi mati, kemudian ‘berhenti di titik jajah’. Dominasi ekonomi,
kekuasaan hingga ideologi menjelma sebentuk potret muram gerakan kolonialisme.
Akhirnya, peradaban Islam bermuram durja.
Berdasarkan analisis
diatas, kami
menemukan beberapa motif utama Eropa menjelajah dan menjajah wilayah Islam,
yaitu:
1. Untuk menyebarkan Kristen dan sekaligus
untukn menghambat serta menaklukkan Islam
sebagai kekuatan yang dapat mengancam Eropa.
2. Membuka lahan
baru ntuk measarkan komoditi mereka dengan cara memonopoli perdagangan.
3. Mengambil
aset negara jajahan, untuk memberikan Devisa kepada Eropa/.
4. Mengeksploitasi
rakyat negara jajahan, untuk kepentingan mereka.
C. Bentuk penjajahan barat terhadap
dunia islam termasuk di Indonesia
Negara-negara Barat
seperti Inggris, Perancis, Spanyol, Italia, Rusia dan lain-lain memang
mempunyai tehnologi militer dan industri perang yang lebih canggih dibandingkan
dengan negara Islam, sehingga mereka tidak segan-segan untuk menyerang dan
mengalahkan wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Islam.
Dari awal penjajahan Barat yaitu perang salib umat Islam telah kehilangan berbagai daerah yang semula telah dikuasai Islam, yang kemudian jatuh ke tangan orang Kristen, yang sukar untuk dikembalikan kembali. Jadi pada perang salib ini telah terjadi penaklukan dan penyerangan yang dilakukan oleh negara Barat untuk merebut wilayah-wilayah kekuasaan Islam. Tidak terhingga kerugian yang diakibatkan oleh penjajahan tersebut, baik kerugian hasil budaya dan peradaban manusia maupun kerugian material maupun korban jiwa, bahkan Richand yang digelari berhati surga menyembelih 27.000 orang tawanan Islam. Suatu perbuatan sangat hina, keji dan jahat.
Dari awal penjajahan Barat yaitu perang salib umat Islam telah kehilangan berbagai daerah yang semula telah dikuasai Islam, yang kemudian jatuh ke tangan orang Kristen, yang sukar untuk dikembalikan kembali. Jadi pada perang salib ini telah terjadi penaklukan dan penyerangan yang dilakukan oleh negara Barat untuk merebut wilayah-wilayah kekuasaan Islam. Tidak terhingga kerugian yang diakibatkan oleh penjajahan tersebut, baik kerugian hasil budaya dan peradaban manusia maupun kerugian material maupun korban jiwa, bahkan Richand yang digelari berhati surga menyembelih 27.000 orang tawanan Islam. Suatu perbuatan sangat hina, keji dan jahat.
Penaklukan yang dilakukan oleh negara-negara Barat antara
lain adalah:
-1820 Oman dan Qatar berada di bawah protektorat Inggris
-1830-1857 Penaklukan Aljazair oleh Perancis
-1839 Aden dikuasai Inggris
-1881-1883 Tunisia diserbu Perancis
-1882 Mesir diduduki Inggris
-1898 Sudan ditaklukkan Inggris
-1900 Chad diserbu Perancis
Pada abad ke20 M
Italia dan Spanyol ikut bersama Inggris dan Perancis memperebutkan
wilayah-wilayah di Afrika.
-1960 Kesultanan muslim di Nigeria utara menjadi protektorat
Inggris
-1912-1913 Kesultanan Tripoli dan Cyrenaica diserbu Italia
-1912 Marokko diserbu Perancis dan Spanyol
-1914 Kuwait di bawah protektorat Inggris
-1919-1921 Sisilia wilayah Turki diduduki Perancis
-1920 Irak menjadi protektorat Inggris
-1920 Syria dan Libanon di bawah mandat Perancis
-1926-1927 Perebutan seluruh Somalia oleh Italia
Sementara itu,
Rusia menggerogoti wilayah-wilayah muslim di Asia Tengah, terutama setelah ia
berhasil mengalahkan Turki Usmani yang berakhir dengan Perjanjian San Stefano
dan Perjanjian Berlin. Satu per satu pula negeri-negeri muslim jatuh ke tangan
Rusia, seperti tergambar dalam daftar berikut:
-1834-1859 Pencaplokan Kaukasia oleh Rusia
-1853-1865 Serbuan pertama Rusia di Khoakand dan jatuhnya
Tashkent
-1866-1872 Daerah-daerah sekitar Samarkand dan Bukhara ditaklukkan
Rusia
-1873-1887 Uzbekistan ditaklukkan Rusia
-1941-1946 Pendudukan Anglo Rusia di Iran.
Selain berupa
penaklukan dan penyerangan negara-negara Barat juga banyak melakukan
penindasan, penghisapan dan perbudakan, yang sangat bertentangan dengan
nilai-nilai kemanusiaan. Penindasan dilakukan kepada wilayah-wilayah yang telah
dikuasainya untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar. Penghisapan terutama
pada hasil bumi dan kekayaan alam negara yang dijajahnya serta perbudakan
banyak dialami oleh orang-orang Islam yang wilayahnya telah jatuh ke tangan
negara-negara Barat.
Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, justru menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa. Kekuatan Eropa malah lebih awal memancapkan kekuasaannya karena kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah sehingga mudah dapat ditaklukkan.
Pada tahun 1521 M, Spanyol datang ke Maluku dengan tujuan dagang, yang kemudian disusul oleh Belanda, Inggris, Demark dan Perancis. Belanda datang tahun 1595 M dan dengan segera memonopoli perdagangan di Indonesia. Tentu kehadirannya ditantang oleh penduduk setempat. Oleh karena itu seringkali terjadi peperangan antara Belanda dengan penduduk, walaupun akhirnya peperangan dimenangkan oleh Belanda, yang terbesar diantaranya adalah perang Aceh, perang Paderi di Minangkabau dan perang Diponegoro di Jawa.
Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, justru menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa. Kekuatan Eropa malah lebih awal memancapkan kekuasaannya karena kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah sehingga mudah dapat ditaklukkan.
Pada tahun 1521 M, Spanyol datang ke Maluku dengan tujuan dagang, yang kemudian disusul oleh Belanda, Inggris, Demark dan Perancis. Belanda datang tahun 1595 M dan dengan segera memonopoli perdagangan di Indonesia. Tentu kehadirannya ditantang oleh penduduk setempat. Oleh karena itu seringkali terjadi peperangan antara Belanda dengan penduduk, walaupun akhirnya peperangan dimenangkan oleh Belanda, yang terbesar diantaranya adalah perang Aceh, perang Paderi di Minangkabau dan perang Diponegoro di Jawa.
Penjajahan Barat di
Indonesia banyak dilatarbelakangi oleh faktor-faktor ekonomi, karena Indonesia
adalah negara yang kaya akan hasil bumi berupa rempah-rempah yang mempunyai
nilai jual tinggi di pasaran Eropa. Selain itu juga dilatarbelakangi oleh
faktor misionaris, atau penyebaran agama, hal ini dapat dilihat sampai sekarang
daerah-daerah tempat pertama kali negara-negara Barat datang ke Indonesia
berpenduduk mayoritas Kristen.
D. Implikasi penjajahan barat terhadap
perkembangan peradaban Islam
Serbuan kaum salib ke negeri-negeri Islam tidak hanya menggunakan pedang, besi dan api, tetapi juga melalui peradaban mereka yang dicekokkan ke semua negeri yang dapat dikuasainya. Bukan hanya peradaban material yang menyerbu negara-negara Islam, bahkan mental dan nilai-nilai moralpun tidak ketinggalan, seperti sistem pendidikan dan pengajaran, dan pemikiran-pemikiran orang Eropa mengenai ilmu jiwa, ilmu sosial, modal dan lain-lain.
Serbuan kaum salib ke negeri-negeri Islam tidak hanya menggunakan pedang, besi dan api, tetapi juga melalui peradaban mereka yang dicekokkan ke semua negeri yang dapat dikuasainya. Bukan hanya peradaban material yang menyerbu negara-negara Islam, bahkan mental dan nilai-nilai moralpun tidak ketinggalan, seperti sistem pendidikan dan pengajaran, dan pemikiran-pemikiran orang Eropa mengenai ilmu jiwa, ilmu sosial, modal dan lain-lain.
Perang Salib
menghasilkan puing-puing kehancuran bagi kaum muslimin akibat kemauan penjajah
yang dikendalikan oleh keserakahan untuk menguasai dan memperkuat wilayahnya
mereka memikul salib di pundak mereka, tetapi setan berada di hati mereka.
Dahulu kaum muslimin menghayati peradaban ditambah dengan
peradaban Persia, Turki dan lain-lain disamping pemikiran filsafat yang diserap
dari Yunani dan Romawi. Dengan datangnya peradaban Barat, maka peradaban lama
yang telah mereka hayati selama berabad-abad mengalami keguncangan hebat dalam
pikiran mereka. Inti peradaban Barat bercorak Nasrani, karena itu orang-orang
Qibth di Mesir lebih mudah meniru dan menyerapnya. Namun mereka lebih banyak
menyerap segi material daripada segi moralnya, sehingga setiap rumah dari
keluarga kaum muslimin telah menggunakan penerangan listrik, menggunakan
sajadah buatan Eropa, mendengarkan siara radio Eropa dan lain sebagainya.
Pada saat barat
mendominasi dunia di bidang politik dan peradaban, persentuhan dengan Barat
menyadarkan tokoh-tokoh Islam akan ketinggalan mereka. Karena itu mereka
berusaha bangkit dengan mencontoh Barat dalam masalah-masalah politik dan peradaban
untuk menciptakan balance of power. Yang pertama merasakan hal itu diantaranya
Turki Usmani, karena kerajaan ini yang pertama dan utama menghadapi kekuatan
Eropa. Kesadaran itu memaksa penguasa dan pejuang-pejuang Turki untuk banyak
belajar dari Eropa.
Penjajahan Barat
juga memicu gerakan pembaharuan dalam Islam, yang didorong oleh 2 faktor yaitu
pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab
kemunduran Islam dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan
dari Barat, sedangkan yang kedua, tercermin dari pengiriman para pelajar muslim
oleh penguasa Turki Usmani dan Mesir ke negara-negara Eropa untuk menimba ilmu
pengetahuan dan dilanjutkan dengan gerakan penerjemahan karya-karya Barat ke
dalam bahasa Islam. Pelajar-pelajar muslim asal India juga banyak menuntut ilmu
ke Inggris.
Pengaruh Barat
terutama terlihat pada lapisan atas dan menengah, terutama pada intelegensia
orang yang memperoleh pendidikan Barat, yang dijumpai pada tiap negeri Timur.
Dalam reaksinya terhadap pengaruh Barat mereka mempunyai pandangan yang
berbeda-beda. Pandangan pertama berpegang pada sendi-sendi filsafat hidup nenek
moyangnya, berusaha melakukan asimilasi dengan ide-ide Barat dan memikirkan
sintesa yang lebih tinggi dari semangat Barat. Kedua, memutuskan hubungan
dengan warisan lama, menerjunkan dirinya dalam pembaratan. Yang ketiga
bersembunyi di belakang kekecewaan dan kengerian Barat.
Memang benar bahwa peradaban
Barat memainkan peranan besar dalam memajukan dunia Islam. Tanpa peradaban
Barat dunia Islam tentu masih seperti keadaan semula, tetapi itu tidak berarti
bahwa peradaban Barat tidak mengandung cacat dan kekurangan. Peradaban Barat telah menjauhkan dunia
Islam dari peradaban Islam yang lama. Akhirnya peradaban Islam bukan lagi suatu
produk dari kaum muslimin mandiri sebagaimana peradaban Barat adalah produk
dari orang-orang Barat sendiri.
BAB III
PENUTUP
·
Kesimpulan
Perang Salib merupakan awal penetrasi Barat terhadap dunia Islam yang selanjutnya membawa kaum muslimin berada dalam jajahan negara-negara Barat. Karena mulai dari Perang Salib I inilah kaum muslimin banyak mengalami kerugian, baik kerugian yang bersifat material seperti banyaknya wilayah Islam yang direbut Barat, diduduki dan dikuasai, juga kerugian non material yang berupa mulai hilangnya peradaban Islam dan mulai masuknya peradaban-peradaban Barat.
Perang Salib merupakan awal penetrasi Barat terhadap dunia Islam yang selanjutnya membawa kaum muslimin berada dalam jajahan negara-negara Barat. Karena mulai dari Perang Salib I inilah kaum muslimin banyak mengalami kerugian, baik kerugian yang bersifat material seperti banyaknya wilayah Islam yang direbut Barat, diduduki dan dikuasai, juga kerugian non material yang berupa mulai hilangnya peradaban Islam dan mulai masuknya peradaban-peradaban Barat.
Penjajahan Barat
terhadap dunia Islam yang diawali dengan Perang Salib berlatar belakang hal-hal
berikut :
1. Mercenary yaitu untuk mencari keuntungan negara Barat di
negara-negara Islam.
2. Missionary yaitu untuk menyebarkan agama Kristen pada
negara-negara jajahannya.
3. Military yaitu perluasan daerah militer.
Selain hal diatas yang melatarbelakangi
penjajahan Barat adalah faktor ekonomi dan politik. Setelah bangsa
Barat menguasai ekonomi dan politik negara-negara Islam seperti India, Asia Tenggara D\dan
Indonesia, terdapat pula negara Barat yang menjajah dunia Islam
dengan melakukan penyebaran agama Kristen melalui missionaris atau zending. Di
antara bangsa Barat yang memiliki ketiga motivasi ini adalah Spanyol dan
Portugis. Hal ini tercermin pada semboyan mereka dalam menjajah, yaitu Gold (semangat
untuk mencari keuntungan), Glory (Semangat untuk mencapai kejayaan dalam
bidang kekuasaan, dan Gospel (semangat untuk menyebarkan agama Kristen
di masyarakat yang terjajah.
Bentuk-bentuk
penjajahan barat terhadap dunia Islam berupa penyerangan, penaklukan, sehingga
banyak wilayah-wilayah Islam yang jatuh ke negara-negara Barat. Juga berupa
penindasan, penghisapan dan perbudakan.
Penjajahan Barat ternyata membawa implikasi yang sangat luas
terhadap perkembangan peradaban Islam baik peradaban material yang berupa
tehnologi baru, maupun peradaban mental. Penjajahan Barat juga memicu gerakan
pembaharuan dalam Islam, yang mana bertujuan untuk memurnikan agama Islam dari
pengaruh asing dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan
Barat.
DAFTAR PUSTAKA
0 komentar:
Posting Komentar