Minggu, 13 Desember 2015

sejarah pendidikan islam

Diposting oleh Unknown di 23.25

Pendidikan islam pada masa kemunduran dunia islam


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pendidikan Islam yang mulai dirintis sejak turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW mengalami pasang surut seiring dengan perjalanan panjangnya melintasi ruang dan waktu hingga masa sekarang. Hal tersebut bergantung pada bagaimana pelaku sejarah pada masanya itu melaksanakan proses pendidikan.
Puncak kejayaan pendidikan Islam dimulai dengan berkembang luasnya lembaga-lembaga pendidikan Islam dan madrasah-madrasah formal di berbagai pusat kebudayaan Islam. Hal ini dipengaruhi oleh jiwa dan semangat kaum muslimin pada waktu itu yang sangat dalam penghayatan dan pengamalannya terhadap ajaran Islam.
Namun pendidikan Islam yang pernah mengalami masa puncak tersebut, lambat laun mulai mengalami kemerosotan jika dibandingkan dengan masa sebelumnya. Peristiwa ini belangsung sejak jatuhnya kota Baghdad di bagian Timur dan kota Cordova di bagian Barat yang keduanya adalah menjadi pusat pendidikan Islam pada waktu itu. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga menjadi sebab kemunduran pendidikan Islam.
Dengan demikian, dalam pendidikan Islam ada beberapa masa yaitu masa perintisan, masa kejayaan, masa kemunduran, dan ada pula masa pembaharuan. Maka dalam makalah ini, penulis akan menjelaskan beberapa bagian penting yang terkait dengan masa kemunduran.




PEMBAHASAN

A. Penyebab kemunduran dunia Islam ( 1250 – 1500 M )

1. Hakikat kemunduran dunia Islam
Kemunduran umat Islam terjadi sekitar 1250 – 1500 m. Kemunduran terjadi dalam semua bidang, terutama bidang pendidikan Islam.
Dalam pendidikan Islam, kemunduran itu disebabkan berkembangnya pola pemikiran tradisional. Pola itu menyebabkan hilangnya kebebasan berfikir, tertutupnya pintu ijtihad, dan berakibat langsung pada menjadikan fatwa ulama masa lalu sebagai dogma yang harus di terima secara mutlak. Ketika umta Islma mengalami kemunduran, dunia Eropa mengalami kebangkitan mengejar ketertinggalan mereka, bahkan mampu menyalib akar kemajuan Islam. Ilmu pengetahuan dan filsafat tumbuh dengan subur di tempat orang Eropa.
Apabila pola pikir tradisional berkembang di dunia Islam terus tertanam dan tumbuh subur, di Eropa, pola pemikiran rasional yang didasarkan pada filsafat rasional Ibn Rusyd yang memacu kebangkitan mereka melalui gerakan kebangkitan. Hal ini merupakan penyebab beralihnya secara drastic pusat pendidikan dari dunia Islam ke Eropa.

2. Kejatuhan Baghdad dan penghancuran pusat kebudayaan Islam
Sejak tahun 132 H / 750 M, daulah Abbasiyah dengan khalifah pertamanya Abu Abbas As-Shafah menguasai pemerintahan Islam. Daulah ini berlangsung hingga tahun 656 H / 1258 M. masa yang panajang itu dilaluinya dengan pola pemerintahan yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan politik, budaya, sosial dan penguasa. Walaupun Abu Abbas adalah pendiri daulah ini, pembinaan sebenarnya adalh Abu Ja’far Al-Mansur yang dengan keras menghadapi lawan-lawannya dari bani Umayyah, Khawarij, dan Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaan.
Agar selalu dapat berpacu dan mengembangkan diri, umat Islam harus selalu melakukan inovasi serta berkreativitas agar dapat mencapai keutuhan dan kesempurnaan hidup. Hal ini setidaknya telah menjadi perhatian para penguasa atau khalifah pada masa jayanya Islam yang terletak pada kekuasaan Daulah Abbasiyah, segenap kemampuan dan perhatian dicurahkan untuk membangun sebuah peradaban, dengan dijadikannya Baghdad sebagai pusat ibu kota pemerintahan yang di dalamnya berdiri istana dan bangunan yang megah dengan seni bangunan Arab Persia pada masa itu.
Penghancuran pusat kebudayaan Islam juga berakibat hilang dan putusnya akar sejarah intelektual yang telah dengan susah payah dibangun pada masa awal-awal Islam. Adanya kekalahan politik itu sangat berpengaruh pada cara pandang dan berfikir umat Islam yang mulai mengalihkan pandangan dan pemikiran yang semula berpaham dinamis berubah menjadi berpaham fatalis atau pasrah.
Dari peristiwa itu dapat disimpulkan bahwa jatuhnya kota Baghdad di tangan Hulagu Khan pada tahun 1250 M bukan hanya pertanda berakhirnya supremasi Khilafah Abbasyiyah dalam dominasi politiknya, melainkan juga berdampak sangat luas bagi perjalanan sejarah umat Islam. Ini merupakan politik dan peradaban Islam yang selama berabad-abad menjadi kebanggaan umat.
Selain penyerangan itu, faktor lain yang juga menyebabkan jatuhnya Baghdad, yaitu :
a. Persaingan tidak sehat antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasyiah, terutama Arab, Persia, dan Turki.
b. Konflik aliran pemikiran dalam Islam yang sering menyebabkan timbulnya konflik berdarah.
c. Munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad.
d. Kemerosotan ekonomi.

3. Penaklukan Cordova ( Spanyol )
Penaklukan Spanyol tidak terlepas dari jasa tiga orang pemimpin pasukan mereka, seperti Tharif bin Malik, Tharik bin Ziyad dan Musa bin Nusair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa dengan pasukan perang berkekuatan lima ratus orang, yang di antaranya adalah pasukan berkuda. Mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu, Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan perang yang berlimpah.
Dengan dikuasainya daerah pegunungan Jabal Thariq, terbukalah pintu secara luas utnuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah. Raja Roderick dapat dikalahkan dengan hasil pertempuran tersebut. Islam masuk ke Spanyol pada tahun 711 dengan merebut kekuasaan dari Goth Barat, yaitu kekaisaranVisigoth (419-711). Pada saat itu, Thariq bin Ziyad melakukan ekspansi ke Spanyol atas perintah Musa bin Nusair, Gubernur Afrika Utara yang pada saat itu di bawah pemerintahan Walid bin Abdul Malik atau Al-Walid I (705-715) dari dinasti Umayyah yang berkedudukan di Damaskus.


B. Kemunduran pendidikan Islam pasca kejatuhan Baghdad dan Cordova

1. Masa kemunduran Politik dan peradaban Islam
Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol tidak hanya mengakhiri khilafah Abbasiyah, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam. Hal ini dikarenakan Baghdad sebgai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan Khazanah. Ilmu pengetahuan itu ikut lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan.
Bangsa Mongol berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia Utara, Tibet Selatan dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur. Nenek moyang mereka bernama Alanja Khan yang mempunyai dua putra kembar, Tartar dan Mongol. Kedua putra itu melahirkan dua suku bangsa besar, yaitu Mongol dan Tartar. Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol pada kemudian hari.

2. Kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana
Dalam rentang waktu yang sangat panjang, kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, mengembala kambing, dan hidup dari hasil buruan. Mereka juga hidup dari hasil perdagangan tradisional, yaitu mempertukarkan kulit binatang dengan binatang yang lain, baik diantara sesama mereka maupun dengan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Sebagaimana umumya bangsa nomad, orang-orang Mongol mempunyai watak kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut dalam mencapai keinginannya. Akan tetapi, mereka sangat patuh kepada pemimpinnya. Mereka menganut agama Syamaniah, menyembah bintang-bintang, dan sujud pada matahari yang sedang terbit.

3. Kemajuan bangsa Mongol secara besar-besaran
Kemajuan bangsa Mongol secara besar-besaran terjadi pada masa kepemimpinan Yasugi Bahadur Khan. Ia berhasil menyatukan 13 kelompok suku yang ada waktu itu. Setelah Yasugi meninggal, putranya, Timujin yang masih berusia 13 tahun, tampil sebagai pemimpin. Dalam waktu 30 tahun, ia berusaha memperkuat angkatan perang dengan menyatukan bangsa Mongol dengan suku bangsa lain sehingga menjadi satu pasukan yang teratur dan tangguh. Pada tahun 1206 ia mendapat gelar Jengis Khan, raja yang perkasa. Ia menetapkan suatu undang-undang yang disebut Alyasak atau Alyasah, untuk mengatur kehidupan rakyatnya. Wanita mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki daam kemiliteran. Pasukan perang dibagi dalam beberapa kelompok besar dan kecil, seribu, dua ratus, dan sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok dipimpin oleh seorang komandan. Dengan demikian, bangsa Mongol mengalami kemajuan pesat dalam bidang militer.


C. Pendidikan Islam pada masa kemunduran
Kehancuran total yang dialami oleh Baghdad sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan Islam pada saat itu menandai runtuhnya sendi-sendi pendidikan dan kebudayaan Islam. Musnahnya lembaga-lembaga pendidikan dan semua buku ilmu pengetahuan dari pusat pendidikan Islam tersebut menyebabkan pula kemunduran pendidikan di seluruh dunia Islam, terutama dalam bidang intelektual dan material, tetapi dalam kehidupan batin dan spiritual.
Adapun untuk lebih jelasnya, mengenai kondisi pendidikan Islam pada masa kemunduran ini adalah sebagai berikut :

1. Kurangnya perhatian para pemimpin
Kurangnya perhatian para pemimpin terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan ulama sehingga perkembangan intelektual agak tersendat-sendat. Para pemimpin terlalu sibuk memikirkan pemerintahan.

2. Terbakarnya perpustakaan dan lembaga pendidikan
Terbakarnya perpustakaan dan lembaga pendidikan yang ada menyebabkan khazanah intelektual Islam yang hilang dan hangus terbakar.

3. Pengaruh bangsa Eropa yang mencapai kejayaan
Suasana gelap dan mencekam yang dialami oleh dunia Islam benar-benar memprihatinkan. Pada saat yang bersamaan, bangsa Eropa justru sedang mencapai kejayaan sebagai pengaruh dari berkembangnya paham Renaisans dan sibuk melakukan misi penjajahan ke negara-negara Islam. Oleh karena itu, banyak umat Islam yang frustasi dan berusaha menjauhi kehidupan duniawi, termasuk meninggalkan kehidupan intelektual. Mereka lebih memilih menutup diri dan menjalani kehidupan sebagai seorang sufi. Akhirnya, perkembangan ilmu pendidikan menjadi mandeg.

 
D. Dampak kemunduran pendidikan Islam

1. Kehidupan sufi berkembang pesat
Berkembangnya kehidupan sufisme berdampak pada perubahan madrasah menjadi Zawiyat-zawiyat untuk mengadakan riyadhah di bawah bimbingan dan otoritas seorang syekh, yang akhirnya berkembang menjadi lembaga tarekat. Di madrasah-madrasah yang masih tersisa itu, hampir seluruh kurikulum diisi dengan karya-karya sufistik.

2. Berkembangnya praktik bid’ah dan khurafat
Berkembangnya praktik bid’ah dan khurafat ditandai dengan banyaknya umat Islam yang mengultuskan posisi seorang syekh dalam suatu tarekat, sampai-sampai ada yang berdoa di kuburan seorang syekh.

3. Berkembangnya taklid buta di kalangan umat
Dalam bidang fiqh, yang terjadi adalah berkembangnya taklid buta di kalangan umat. Dengan sikap hidup yang statis itu, tidak ada penemuan baru dalam bidang fiqh. Semua yang sudah ada dalam kitab-kitab lama dianggap sebagai sesuatu yang baku, mantap, benar dan harus diikuti serta dilaksanakan sebagaimana adanya sehingga memunculkan pendapat bahwa “pintu ijtihad sudah tertutup”.


PENUTUP

• Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penyebab utama dari mundurnya dunia pendidikan Islam ditandai dengan runtuhnya Baghdad selaku ibu kota Daulah Abbasiyah ke tangan bangsa Mongol. Hal itu menyebabkan seluruh dunia Islam juga mengalami kemunduran. Hal ini dikarenakan Baghdad pada saat itu berfungsi sebagai kiblat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Kondisi itu meyebabkan benyak umat Islam frustasi sehingga memilihmenjalani keidupan sebagai seorang sufi dan berusaha meninggalkan kehidupan intelektual. Mereka yang semula bersfat kritis dan dinamis, kontras berubah menjadi statis. Dari sikap itu, berkembang menjadi takldi buta kepada ulama karena bagi mereka pintu ijtuhad telah tertutup.
Tetapi, di belahan bumi lain bangsa Eropa justru sedang mengalami kemajuan pesat yang diakibatkan oleh berkembangnya paham Renains. Mereka berhasil keluar dari dominasi doktrin gereja yang terjadi pada masa Scholastik ( Abad pertengahan). Oleh karena itu, jika umat Islam ingin maju, umat Islam juga harus bersikap kritis dan merdeka.

REFERENSI

Kodir, Abdul. Sejarah Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia. 2015

0 komentar:

Posting Komentar

 

ahlan wa sahlan Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review